BIARKAN DIA PERGI
Hubungan, hubungan seperti apakah yang
sedang aku jalani saat ini? Terlihat bahagia dimata
orang lain, namun itu hanya kelihatannya saja.
Bahagia, apa benar aku merasa
bahagia saat sedang bersamanya? Jika ia, lalu perasaan seperti apa
yang seharusnya aku rasakan? Aku tidak dapat mendeskripsikan perasaan ku ini. Semua
terlihat abu-abu. Antara bahagia atau malah sebaliknya. Egois. Aku tidak mau
dikatakan sebagai wanita yang egois, sudah sepatutnya aku memberikannya
kesempatan untuk bisa memiliki hatiku.
Walau sulit, namun tetap
akan aku berikan hati ini untuknya, aku selalu berdoa agar aku bisa jatuh cinta
kepadanya. Aku engga mau membuat
siapapun kecewa karena keegoisan ku, cukup aku saja yang tau. Dan cukup aku saja
yang merasakannya, Davi terlalu baik untukku, aku engga mau
mengecewakan dia lagi.
“Lo
seneng?” Tanya Davi memecahkan kesunyian
diantara kami. Sudah satu jam tepatnya aku dan Davi berada di pesta perpisahan
sekolah. Yep malam ini ada promnight di sekolahku,
Davi yang ngajak aku untuk datang kesini dan aku mengiyakan ajakannya.
“Iyalah
gue seneng, gue sampe ga bisa ngomong apa-apa gini…” aku
menjawab pertanyannya. Davi dia terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo
hitam dan dasi kupu-kupu berwarna merah maroon melingkar manis di
kerah kemeja hitamnya, itu
warna favoritnya. Kurang lebih itu yang aku tahu tentangnya.
“Tapi
beneran lo seneng?” tanyanya sekali lagi memastikan kalau aku memang
benar-benar merasakan kesenangan pesta malam ini padahal… aku..berbohong.’ aku tidak benar-benar senang. Maafin gue Davi’, batinku. Aku
pun tersenyum kepadanya berharap senyumanku ini bisa menutupi kebohonganku. Dia
pun ikut tersenyum.
“Iya
gue seneng banget!” tak lupa dengan ku berikan senyuman manis untuknya.
“Walaupun
ga ada Yoza? Gue tau kok chik kalo..” perkataannya langsung terpotong
dengan sanggahan dariku.
“Enggak
kok!” hanya dua kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Sepertinya usaha ku
sia-sia Davi tahu kalau aku sedang berbohong. Kutatap kedua matanya
dalam-dalam. Dia terluka, aku tahu itu. Sorot matanya memancarkan kesedihan dan
kecewa. Oh tuhan aku ga mau membuat laki-laki baik di hadapanku ini terluka
karena keegoisanku.
“Udah
jangan bilang engga lagi. Mendingan sekarang lo temuin Yoza, Chika,
elo sama dia jangan dieman lama-lama, nanti malah bikin perasaan lo jadi sakit.
Bagi gue, udah kenal sama lo, kita jalan waktu itu, terus lo dateng malem ini
udah cukup kok. Gue ga bisa nahan lo lama-lama disini tapi perasaan lo ada di
tempat lain chik.”
Ya tuhan terbuat dari apakah hatinya, Davi kenapa lo terlihat
begitu tegar melepaskan aku untuk laki-laki lain. Yang jelas-jelas lo
sendiri sangat terluka untuk mengatakan hal itu. ‘Lo cowok baik dav, gue yakin
lo pasti dapetin cewek yang juga baik kaya lo. Pasti dav.’ Yakin gue dalam
hati.
“Kok
lo baik banget sih Dav, tapi nanti elo?”
“Udah
jangan mikirin gue lagi, udah cepetan lo pergi nanti keburu Yoza pergi lagi.”
Ucap Davi mengingatkan aku. Sempat ga enak hati karena ninggalin Davi sendiri
disini tapi dia yang nyuruh aku untuk ngejar cinta yang udah terlanjur pergi
dan sebelum cinta itu semakin jauh pergi dari aku, aku akan kejar cinta itu.
Ini kesempatan yang baik untuk aku. Aku ga mau kehilangan cinta itu lagi, ga
akan.
“Makasih
ya Davi.” Dengan suasana hati yang membaik aku peluk Davi, pelukan
persahabatan mungkin. Aku pun cepat-cepat berlari hingga suara Davi terdengar
memanggil dari kejauhan.
“Chikaaaaa..”
teriaknya. Seketika akupun membalikkan badan kearah Davi.
“Iya….”
Terlihat Davi sedang tersenyum kearahku dan kubalas dengan tatapan heran.
“Goodluck.”
Thanks Davi lo memang yang terbaik tapi bukan sebagai kekasih melainkan sebagai
seorang sahabat. ‘Suatu saat akan gue balas semua kebaikan lo dav. Pasti dav’.