Selasa, 21 Juni 2016

Let Her Go

BIARKAN DIA PERGI

Hubungan, hubungan seperti apakah yang sedang aku jalani saat ini? Terlihat bahagia dimata orang lain, namun itu hanya kelihatannya saja.
Bahagia, apa benar aku merasa bahagia saat sedang bersamanya? Jika ia, lalu perasaan seperti apa yang seharusnya aku rasakan? Aku tidak dapat mendeskripsikan perasaan ku ini. Semua terlihat abu-abu. Antara bahagia atau malah sebaliknya. Egois. Aku tidak mau dikatakan sebagai wanita yang egois, sudah sepatutnya aku memberikannya kesempatan untuk bisa memiliki hatiku.
Walau sulit, namun tetap akan aku berikan hati ini untuknya, aku selalu berdoa agar aku bisa jatuh cinta kepadanya. Aku engga mau membuat siapapun kecewa karena keegoisan ku, cukup aku saja yang tau. Dan cukup aku saja yang merasakannya, Davi terlalu baik untukku, aku engga mau mengecewakan dia lagi.

          “Lo seneng?Tanya Davi memecahkan kesunyian diantara kami. Sudah satu jam tepatnya aku dan Davi berada di pesta perpisahan sekolah. Yep malam ini ada promnight di sekolahku, Davi yang ngajak aku untuk datang kesini dan aku mengiyakan ajakannya.

          “Iyalah gue seneng, gue sampe ga bisa ngomong apa-apa gini…” aku menjawab pertanyannya. Davi dia terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo hitam dan dasi kupu-kupu berwarna merah maroon melingkar manis di kerah kemeja hitamnya,  itu warna favoritnya. Kurang lebih itu yang aku tahu tentangnya.

          “Tapi beneran lo seneng?” tanyanya sekali lagi memastikan kalau aku memang benar-benar merasakan kesenangan pesta malam ini padahal… aku..berbohong.’ aku tidak benar-benar senang. Maafin gue Davi’, batinku. Aku pun tersenyum kepadanya berharap senyumanku ini bisa menutupi kebohonganku. Dia pun ikut tersenyum.

          “Iya gue seneng banget!” tak lupa dengan ku berikan senyuman manis untuknya.

          “Walaupun ga ada Yoza? Gue tau kok chik kalo..” perkataannya langsung terpotong dengan sanggahan dariku.

          “Enggak kok!” hanya dua kata itu yang bisa keluar dari mulutku. Sepertinya usaha ku sia-sia Davi tahu kalau aku sedang berbohong. Kutatap kedua matanya dalam-dalam. Dia terluka, aku tahu itu. Sorot matanya memancarkan kesedihan dan kecewa. Oh tuhan aku ga mau membuat laki-laki baik di hadapanku ini terluka karena keegoisanku.

          “Udah jangan bilang engga lagi. Mendingan sekarang lo temuin Yoza, Chika, elo sama dia jangan dieman lama-lama, nanti malah bikin perasaan lo jadi sakit. Bagi gue, udah kenal sama lo, kita jalan waktu itu, terus lo dateng malem ini udah cukup kok. Gue ga bisa nahan lo lama-lama disini tapi perasaan lo ada di tempat lain chik.”  Ya tuhan terbuat dari apakah hatinya, Davi kenapa lo terlihat begitu tegar melepaskan aku untuk laki-laki lain. Yang jelas-jelas lo sendiri sangat terluka untuk mengatakan hal itu. ‘Lo cowok baik dav, gue yakin lo pasti dapetin cewek yang juga baik kaya lo. Pasti dav.’ Yakin gue dalam hati.

          “Kok lo baik banget sih Dav, tapi nanti elo?”

          “Udah jangan mikirin gue lagi, udah cepetan lo pergi nanti keburu Yoza pergi lagi.” Ucap Davi mengingatkan aku. Sempat ga enak hati karena ninggalin Davi sendiri disini tapi dia yang nyuruh aku untuk ngejar cinta yang udah terlanjur pergi dan sebelum cinta itu semakin jauh pergi dari aku, aku akan kejar cinta itu. Ini kesempatan yang baik untuk aku. Aku ga mau kehilangan cinta itu lagi, ga akan.

          “Makasih ya Davi.” Dengan suasana hati yang membaik aku peluk Davi, pelukan persahabatan mungkin. Aku pun cepat-cepat berlari hingga suara Davi terdengar memanggil dari kejauhan.

          “Chikaaaaa..” teriaknya. Seketika akupun membalikkan badan kearah Davi.

          “Iya….” Terlihat Davi sedang tersenyum kearahku dan kubalas dengan tatapan heran.

          “Goodluck.” Thanks Davi lo memang yang terbaik tapi bukan sebagai kekasih melainkan sebagai seorang sahabat. ‘Suatu saat akan gue balas semua kebaikan lo dav. Pasti dav’.

Salah satu keputusan tersulit dalam cinta adalah ketika kamu harus memilih untuk bertahan atau melepaskan dan jika kamu mencintai sesuatu, maka bebaskan dia jika dia tak kembali, maka memang begitulah seharusnya. –Davi-
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar