Rabu, 26 April 2017

Menanti Hati

Menanti hati.
Malam yang terasa lebih lama daripada malam-malam kemarin,  kuhabiskan dan kulewati hanya duduk diam berdoa menanti pagi.
Tuhan, aku sedang menanti sebuah hati yang siap sedia mengisi hati yang kosong. Membunuh setiap rasa sepi yang kian lama semakin menyakiti hati.
Guyuran air hujan tak mampu memadamkan kobaran api yang ada dihati menjadi mati.
Tuhan, aku sedang menanti sebuah hati yang bisa menerima apa adanya diriku ini. Aku menanti karna kemauan hati. Bukan karna siapa-siapa, bukan apa-apa, bukan karna terpaksa apalagi dipaksa.
Aku sedang menanti hati.
Menanti seseorang yang mau hatinya untuk aku isi. Aku menanti orang yang dengan sukarela akan menyerahkan hatinya untuk aku miliki. Aku menanti orang yang ditakdirkan tuhan untuk menemani, menjaga dan menghabiskan sisa waktu yang tuhan beri.
Semoga selalu bersama sampai mati.
Hai, aku sedang menanti hati. Mungkinkah kamu orangnya?

Bandar lampung, 27 April 2017.